Minggu, 02 September 2012

Pasrah Akan Sebuah Cita-Cita



Suatu saat aku ingin menjadi orang yang berguna untuk diri Ku sendiri, keLuarga maupun orang lain …
seseorang pasti mempunyai cita-cita yang berbeda, ada yang ingin menjadi seorang dokter, guru, pilot, polisi dan lain-lain. tetapi berbeda dengan temanKu yang satu ingin, iya mempunya sebuah cita-cita mulia, yaitu menjadi seorang guru, tapi sangat di sayang Kan karena kurangnya biaya untuk bersekolah akhirnYa iya pun putus sekolah di jenjang SMA.
Akan tetapi demi mengejar cita-citanYa iya rela berkerja sebagai Pembantu rumah tangga di sebuah kota. 7 bulan kemudian setelah iya menghabiskan waktunYa menjadi pembantu rumah tangga, iya pun ingin pulang dengan membawa uang hasil jerih payaNya menjadi pembantu, tetapi karena kebutuhan ekonomi kakaknYa juga memperihatinKan, uang hasil kerja keras itu di berikan kepada kakaknya ,, dan cita-citanya untuk menjadi seoarang guru harus menunggu.
tak lama kemudian iya pun pindah ke sulawesi untuk membantu kakaknYa mengurus anak, dia bertemu dengan seseorang yang ingin membantu untuk bersekolah, akan tetapi orang tuanya tak mengizinkan iya untuk melanjutkan sekolahnya. si anak “mama ada seseorang yang mau membantu untuk menlanjutkan sekolah dan biayanya pun tak terlalu berat” . kata si orang tua “kau tak perlu sekolah, bantu saja kakakMu, to’ aku menyekolahKan kamu hanya untuk melihat kamu bisa bacu tulis saja” ..
anak ini kerap kali termenung, nagis meratapi nasib nya ke depan ….
” tanpa pendidikan saya nantinya mau jadi apa ,, masa saya harus berpangku tngan kepada orang lain ,, saya jga memiliki cita-cita seperti oranglain”.
“para orang tau, sadarLah bahwa pendidikan sangat i perlukan di masa depan”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar